Nasional

Pesan Memilukan Santri Kediri Sebelum Tewas Dianiaya Seniornya: Aku Takut Ma, Sini Cepet Jemput

Quantavillage.com – Keluarga awalnya tak menduga, Bintang Balqis Maulana, bocah 14 tahun itu akan mengalami nasib tragis meninggal dunia akibat dianiaya empat santri seniornya di tempat pesantren.

Sebelum meninggal, bocah itu sempat mengirimkan instruksi WhatsApp untuk ibundanya di tempat Afdeling Kampung Anyar, Dusun Kendeng Lembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kota Banyuwangi, Jawa Timur.

Diketahui, Bintang meninggal dunia pasca dianiaya para seniornya di tempat Pondok Pesantren Al Hanafiyah, Kediri.

Pesan yang tersebut dikirim Bintang begitu memilukan. Dalam pesannya, Bintang memohonkan untuk segera dijemput pulang dari pondok pesantren. Dia mengaku sudah ada tiada tahan dan juga ingin secepatnya pulang ke rumah.

“Sini jemput Bintang,” tulisnya di chat WA yang tersebut beredar juga di dalam media sosial.

Dalam instruksi itu, pihak keluarga sempat memohonkan Bintang bersabar dan juga akan dijemput pasca bulan Ramadan. Namun begitu, korban yang tersebut nampaknya sudah ada amat takut memaksa untuk secepatnya dijemput.

“Cepet sini, aku takut maa, ma tolong, di lokasi ini cepat jemput,” tulis Bintang.

Apa yang tersebut dikhawatirkan Bintang benar-benar terjadi, pada Hari Sabtu (24/2/2024), ia memang benar pulang, namun di keadaan sudah ada tak bernyawa. Peristiwa ini tentu amat meninggalkan duka yang digunakan mendalam bagi keluarganya.

Ironisnya, Bintang diketahui meninggal dunia pada kondisi penuh luka hampir di tempat sekujur tubuhnya. Diduga kuat ia jadi korban penganiayaan pada waktu dalam pesantren tempatnya belajar.

Empat Santri Jadi Tersangka

Sementara itu, polisi telah menetapkan empat orang santri yang digunakan merupakan senior Bintang sebagai dituduh perkara dugaan penganiayaan hingga mengakibatkan korban meninggal dunia.

Keempat terperiksa merupakan senior atau kakak kelas korban berinisial BM (14) pada pondok pesantren yang sama.

Tersangka berinisial MN (18) selama Sidoarjo, MA (18) jika Kota Nganjuk, AF (16) dengan syarat Denpasar Bali, lalu AK (17) jika Surabaya.

“Kami tetapkan empat terperiksa kemudian diadakan penangkapan guna proses penyelidikan lebih tinggi lanjut,” kata Kapolres Kediri Pusat Kota AKBP Bramastyo Priaji, sebagaimana dilansir Antara, Selasa (27/2/2024).

Penetapan terperiksa setelahnya diadakan olah TKP lalu pemeriksaan beberapa jumlah saksi. Kasus itu dijalankan berulang-ulang.

Diduga terjadi kesalahpahaman di area antara anak-anak itu sehingga menyebabkan kejadian penganiayaan berulang.

Pihaknya juga masih mendalami tindakan hukum yang disebutkan termasuk memohon keterangan dari pesantren maupun dokter yang dimaksud memeriksa jenazah.

“Dari pondok juga kami dalami. Yang pasti kami sudah ada menetapkan empat tersangka,” ungkapnya.

Santri yang dimaksud diketahui meninggal pada hari terakhir pekan 23 Februari 2024. Kasusnya dilaporkan ke Polsek Glenmore, Banyuwangi, pada Hari Sabtu 24 Februari 2024.

Keempat terperiksa terancam Pasal 80 ayat 2 tentang inovasi Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button